Tutwuri.id
News and Edutainment

Tahukah Kamu? Kini Indonesia Miliki 9 Warisan Dunia

Tutwuri.id – Dengan ditetapkannya Ombilin Coal Heritage of Sawahlunto sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO, hingga saat ini Indonesia telah memiliki total 9 Warisan Dunia. Lima pada kategori Warisan Budaya, yaitu Kompleks Candi Borobudur (1991), Kompleks Candi Prambanan (1991), Situs Manusia Purba Sangiran (1996), Lanskap Budaya Provinsi Bali: Sistem Subak sebagai Manifestasi dari Filosofi Tri Hita Karana (2012), dan Warisan Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto (2019).

Adapun pada kategori Warisan Alam terdapat empat warisan, yaitu Taman Nasional Ujung Kulon (1991), Taman Nasional Komodo (1991), Taman Nasional Lorentz (1999), dan Hutan Hujan Tropis Sumatera (2004).

Ombilin Coal Heritage of Sawahlunto telah berhasil ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO pada Pertemuan Komite Warisan Dunia (World Heritage Committe) UNESCO sesi ke-43 di Baku, Azerbaijan (06/07). Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto dipandang pantas diposisikan sebagai warisan dunia karena memiliki konsep tiga serangkai yang dicetuskan oleh Pemerintah Belanda pada masa itu.

Gambaran konsep tiga serangkai meliputi industri pertambangan batubara di Sawahlunto, lalu dibawa keluar dari Sawahlunto dengan menggunakan transportasi kereta api melalui wilayah Sumatera Barat, kemudian dengan sistem penyimpanan di Silo Gunung di Pelabuhan Emmahaven, yang dikenal sekarang dengan Teluk Bayur.

Berangkat dari konsep tiga serangkai terjalin hubungan sistemik industri tambang batubara, sistem perkeretaapian, dan pelabuhan. Hal ini berperan penting bagi pembangunan ekonomi dan sosial di Sumatera dan di dunia. Situasi 36 situs yang dinominasikan masuk dlm Daftar Warisan Dunia menggambarkan kedinamisan interaksi sosial dan budaya antara dunia timur dan barat sehingga berhasil mengubah daerah tambang terpencil menjadi perkotaan dinamis dan terintegrasi.

Potret Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto menunjukkan perkembangan teknologi perintis abad ke-19 yang menggabungkan antara ilmu teknik pertambangan Eropa dengan kearifan lingkungan lokal, praktik tradisional, dan nilai-nilai budaya dalam kegiatan penambangan batubara yang dimiliki oleh masyarakat Sumatera Barat

Dalam hal ini, keunikan Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto menunjukkan contoh rangkaian kombinasi teknologi dalam suatu lanskap kota pertambangan yang dirancang untuk efisiensi sejak tahap ekstraksi batubara, pengolahan, dan transportasi, sebagaimana yang ditunjukkan dalam organisasi perusahaan, pembagian pekerja, sekolah pertambangan, dan penataan kota pertambangan yang dihuni oleh sekitar 7.000 penduduk.

Arief Rahman, Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU), menuturkan bahwa penetapan status warisan dunia bukan sebagai tujuan utama dari diplomasi budaya. Melalui pengakuan internasional ini, Indonesia harus dapat memastikan identifikasi, perlindungan, konservasi dan transmisi nilai-nilai luhur warisan bangsa dapat terjadi dan berkelanjutan dari generasi ke generasi.

“Di samping upaya perlindungan dan edukasi, status warisan dunia mestinya juga dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendatangkan manfaat ekonomi agar dapat meningkatkan harkat hidup dan kesejahteraan masyarakat sekitarnya,” tuturnya.

Jika menengok fitur terpenting dari Konvensi Warisan Dunia tahun 1972 bahwa konvensi ini menghubungkan antara konsep konservasi alam dengan pelestarian kekayaan budaya. Konvensi ini mengakui cara manusia berinteraksi dengan alam, dan kebutuhan mendasar untuk menjaga keseimbangan di antara keduanya. Pada tahun 2019, terdapat total 36 situs yang dinominasikan untuk masuk ke dalam Daftar Warisan Dunia, Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto menjadi satu di antaranya.

Berita Lainnya