Tutwuri.id
News and Edutainment

Mewaspadai Bahaya Obesitas

Tutwuri.id – Di grup WhatsApp kesehatan beredar anekdot, “Pengendara sepeda ialah bencana bagi perekonomian negara. Mereka tak beli mobil, bensin, tak bayar parkir, dan tak pernah ke dokter. Sebaliknya, restoran cepat saji ialah berkah perekonomian, termasuk bagi klinik, apotik, dan pusat kebugaran, karena meningkatkan jumlah pasien penderita obesitas.” Anekdot ini membuat kita tersenyum getir. Obesitas atau kegemukan dianggap menjadi problem negara. Apakah obesitas sudah menjadi ancaman?

Respons menghadapi kegemukan ini beragam. Ada yang cukup dengan berolahraga di rumah atau sekadar jalan kaki tiap pagi, ikut senam kebugaran, atau diet. Yang malas olahraga, tapi pengin cepat turun bobot, bisa datang ke klinik liposuction (sedot lemak), asal mampu bayar.

Dari sisi medis, penting untuk menangani obesitas. Kegemukan atau kelebihan berat badan ialah pintu masuk bagi sederetan penyakit berat, seperti gangguan jantung dan ginjal. Makin gemuk (obese) seseorang, makin besar risiko tubuhnya kena gangguan penyakit, seperti hipertensi. Jika tekanan darah seseorang melebih batas normal 140/90 mm Hg, aliran darah ke ginjal akan terhambat tidak lancar. Jika tak segera ditangani, bisa mengarah ke gagal ginjal. Jadi, kegemukan bisa menjadi pintu gerbang masuknya hipertensi, dan potensial mengarah ke gagal ginjal.

Jumlah penderita penyakit ginjal di Indonesia menempati urutan kedua setelah penyakit jantung. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, ada 1.499.400 penduduk Indonesia yang menderita batu ginjal, dan sebanyak 499.800 orang di antaranya menderita penyakit ginjal. Salah satu penyebab utama penyakit katastropik (termasuk gagal ginjal) ialah karena obesitas atau kegemukan.

Riskesdas 2013 menujukkan, prevalensi penduduk usia di atas 18 tahun yang mengalami kelebihan berat sebesar 28,9%, yaitu dengan berat badan berlebih sebesar 13,5% dan obesitas sebesar 15,45%. Pada 2016 meningkat, totalnya jadi 33,5%, dengan berat badan berlebih 12,8% dan obesitas 20,7%. Sementara itu, data 7th Report of Indonesian Renal Registry 2014, sebanyak 56% penderita ginjal ialah usia produktif di bawah 55 tahun. Penyakit gagal ginjal banyak menerpa usia produktif.

Banyaknya penderita gagal ginjal itu mengakibatkan biaya layanan kesehatan nasional juga membesar. Alokasi Jaminan Kesehatan Nasional untuk biaya penanganan penderita ginjal pada 2015 mencapai Rp2,68 triliun, sekitar separuh dari alokasi anggaran JKN tahun itu sebesar Rp5 triliun.

Pengaruh obesitas pada ginjal

Secara alamiah, ginjal sangat adaptif menopang sistem biologi tubuh, karena dibekali sistem otonomi khusus untuk memproteksi diri menghadapi berbagai kondisi, misal saat menghadapi serangan penyakit. Namun, proteksi diri ini tidak menjamin segalanya. Dengan atau tanpa penyakit ginjal, secara alamiah fungsi ginjal akan makin menurun karena bertambahnya usia.

Di usia muda, fungsi ginjal seseorang bisa 100 cc/menit. Saat usia tua, bisa menurun hingga ke 60 cc/menit, dan level itu masih dalam batas aman fisiologis. Bedanya, ginjal usia tua gampang sekali jatuh ke situasi gagal ginjal kronis, ketika menghadapi gangguan tubuh atau tekanan yang ekstrem, salah satunya ialah kegemukan. Karena tertekan oleh kegemukan dalam waktu yang lama, fungsi ginjalnya makin menurun, sampai pada jalur patologis yang ditandai dengan proses peradangan. Semakin gemuk seseorang, penurunan fungsi ginjalnya makin cepat.

Kelebihan berat badan, terutama di sekitar perut, akan menyebabkan banyak efek metabolik merugikan yang berdampak pada ginjal. Berat badan berlebih ini dapat mengaktifkan sistem saraf simpatis tubuh, atau respons ‘reaksi siaga’, dan melepaskan hormon yang dapat meningkatkan penyimpanan natrium dan tekanan darah. Kelebihan berat badan akan merusak kemampuan tubuh untuk memindah zat gula (glukosa) dari darah ke sel. Akibatnya, tubuh lebih sulit untuk mengeluarkan kelebihan gula di darah, yang pada gilirannya menyebabkan diabetes.

Studi dr Alex Chang dari Sistem Kesehatan Geisinger, Danville, Pennsylvania, menyebutkan, jika dibandingkan dengan orang dewasa yang sedikit kelebihan berat badan, orang dengan obesitas parah (sangat gemuk) memiliki kemungkinan dua kali lebih besar untuk mengalami gangguan fungsi ginjal. Adapun orang yang tidak terlalu gemuk memiliki risiko 18 hingga 69% lebih tinggi terkena penurunan fungsi ginjal. Artinya, kegemukan berdampak buruk bagi ginjal. Peradangan akibat kegemukan dan lemak perut yang berlebihan, sangat potensial merusak fungsi ginjal.

Kelebihan berat badan juga akan merusak kemampuan tubuh untuk memindahkan glukosa dari darah ke dalam sel, dan dapat menyebabkan diabetes yang siap mengaktifkan proses peradangan. Selanjutnya, kadar hormon dan peradangan yang abnormal gara-gara kelebihan lemak perut ini akan berdampak buruk pada ginjal.

Menurut WHO, secara global ada 1,9 miliar orang dewasa mempunyai kelebihan berat badan atau obesitas. Sekitar 4 dari 10 orang dewasa mengalami kelebihan berat badan, dan 1 dari 10 orang mengalami obesitas. Ini kondisi yang akan memicu memburuknya fungsi ginjal, dan juga meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, gangguan sendi, dan kanker tertentu.

Apakah hanya obesitas yang mengundang risiko penyakit ginjal? Tidak juga. Menurut dr Michael Melamed dari fakultas kedokteran Albert Einstein dan Montefiore Medical Center di New York, pola makan yang buruk (misalnya banyak mengonsumsi makanan olahan) serta kurang olahraga, juga mengundang risiko kerusakan ginjal.

Penelitian yang diterbitkan online di The American Journal of Kidney Disease April lalu juga menunjukkan, gaya hidup yang buruk juga membahayakan ginjal. Penelitian dipimpin Dr Alex Chang dari Universitas Johns Hopkins, mengamati lebih dari 2.300 orang dewasa muda selama 15 tahun. Di antara kesimpulannya ialah, gagal ginjal lebih mungkin menyerang penderita diabetes, penderita hipertensi, orang yang keluarganya memiliki riwayat sakit ginjal, sering mengonsumsi daging merah, minuman ringan, makanan cepat saji, dan perokok.

Ini ialah penjelasan dari sisi medis. Bukan bermaksud tidak solider pada mereka yang minder karena kegemukan. Bagaimanapun, lebih banyak menggerakkan tubuh dan membatasi makan berlebih akan membuat tubuh menjadi sehat, dan juga lebih hemat. Lebih baik mencegah daripada mengobati.

*Guru Besar Fakultas Kedokteran Unair, pendiri rumahginjal.id