Tutwuri.id
News and Edutainment

Solo Valley: Napak Tilas Sejarah Pengairan di Bojonegoro

Ttutwuri.id – Solo Valley Werken dibangun pada 1930-an bersamaan dengan pembuatan Waduk Pacal. Dua sistem pengendali banjir ini merupakan hibah dari Ratu Belanda Wilhelmina. Lokasinya membentang dari barat mulai Sungai Bengawan Solo di Karang Nongko, Kecamatan Ngraho, hingga ke ujung timur desa Bayeman Kecamatan Baureno, perbatasan Lamongan.

Kanal Solo Valley yang panjangnya mencapai 73 kilometer lebih dengan lebar sekitar 100 meter dan kedalaman kurang lebih 4 meter pada awalnya digadang-gadang sebagai solusi atas persoalan banjir Bengawan Solo dan kekeringan setiap tahun di wilayah Kabupaten Bojonegoro.

Keberadaan Bengawan Solo pada masa lalu bukan hanya sebagai jalan transportasi saja, tetapi juga sebagai pusat peradaban. Bojonegoro pada awalnya bernama Rajekwesi. Pusat pemerintahan pertama adalah Jipang, yakni mencakup Cepu dan Padangan. Lokasinya di sepanjang Bengawan Solo bagian barat hingga timur Bojonegoro. Bengawan Solo yang mengantarkan para pedagang dari Tiongkok, Kerajaan Demak, dan  Majapahit berdagang dengan orang Bojonegoro.

Dalam literatur Belanda, ‘CLM Penders (1984), Bojonegoro 1900-1942: A Story of Endemic Poverty in North-east Java-Indonesia’  disebutkan bahwa Bojonegoro selalu digambarkan sebagai salah satu daerah termiskin dan paling terbelakang di Jawa. Tanahnya tandus dan hampir tidak ada irigasi, lahan pertanian Bojonegoro berkualitas buruk, daerah yang subur di dekat Bengawan Solo juga sering menjadi sia-sia terkena banjir selama musim hujan.

Solo Valley Werken menurut data Dinas pengairan Bojonegoro pada tahun 2014 seluas 15.240.624 meter persegi. Namun selama lebih dari 50 tahun kanal tersebut tidak berfungsi, sehingga lahan kanal sudah banyak yang berubah menjadi permukiman warga, sawah, kebun, fasilitas umum, sekolah, dan embung atau penampungan air.

Lahan tanggul Solo Valley Werken yang ditanami pohon jati oleh penggarap lahan. (Foto: @li)

Mengingat selama ini, daerah Bojonegoro bagian selatan sudah akrab dengan krisis air bersih dan kekeringan jika musim hujan tiba. Wilayah itu misalnya Kecamatan Tambakrejo, Dander, Sukosewu, Temayang, Sekar, Kedungadem, Kepohbaru, Ngambon, dan sebagian di Ngasem. Hal itu berbanding terbalik dengan sebagian kecamatan di Bojonegoro yang dilewati Sungai Bengawan Solo. Di wilayah tersebut, ketersediaan air relatif masih ada jika kemarau datang.

Lipri (62), salah satu warga dusun Kiringan Desa Mojorejo – Kecamatan Ngaraho, mengatakan bahwa penggarapan lahan Solo Valley Werken sebagai lahan pertanian itu sudah turun temurun sebagai warisan dari kakek dan buyutnya. Lahan seluah satu hektar lebih selain ditanami padi atau palawija di bagian bawah, juga ditanami pohon jati di bagian lahan yang dulunya berfungsi sebagai semacam tanggul Solo Valley Werken tersebut, tambahnya.

“Warga sini menggarap lahan Solo Valley Werken itu umumnya mewarisi dari pendahulunya, dari kakek atau bahkan dari buyutnya,” ujar pria yang sudah bercucu tiga.

Dari segi fungsi yang digagaskan dari awal pembuatan Solo valley Werken sudah selayaknya kini Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dan Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Bengawan Solo mempertimbangkan kembali untuk mengaktifkan kanal Solo Valley Werken. Kanal dengan panjang sekitar 73 kilometer lebih itu agar dapat difungsikan untuk mengatasi kekeringan sekaligus mengendalikan banjir dan mewujudkan kemakmuran Kabupaten Bojonegoro.