Tutwuri.id
News and Edutainment

Selamat Jalan, Lik Gir!

Tutwuri.id – Membuka facebook pagi ini, Senin, 8 Juli 2019, mata dan hati disuguhi kekagetan tentang berita duka atas meninggalnya seorang sahabat, Rachmat Giryadi. Tak terhitung berapa jumlah unggahan status teman yang memberitakan dan memberi doa atas kepergian sahabat yang penulis itu. Para pengunggah status adalah orang yang berlatar belakang cukup beragam. Hal itu menunjukkan betapa luas dan tanpa batas pergaulan almarhum.

Di beberapa status teman, saya sempat berkomentar, “ikut berbelasungkawa, Mas Giryadi orang baik, semoga husnul khatimah”. Hanya di beberapa saja, karena jika berkomentar di semua status unggahan teman, tentu tak cukup punya waktu. Hal itu sekali lagi menunjukkan bahwa Mas Rachmat Giryadi orang baik, temannya sungguh banyak.

Padahal kemarin, Minggu, 7 Juli 2019, beberapa teman mengunggah berita gembira bahwa cerpen ‘Hantu Pohon Gayam’ karya Rachmat Giryadi dimuat di harian Kompas. Dalam unggahan itu memang disertai catatan bahwa penulis sedang sakit dan dimohonkan doa agar penulis segera sehat dan kembali beraktivitas.

Cerpen yang dimuat di Kompas itu hanya sebagian kecil karya Rachmat Giryadi. Ia adalah seniman lengkap: menulis cerpen, puisi, naskah drama, dan sekaligus seorang aktor (praktisi teater). Jumlah buku yang sudah terbit banyak. Saya memiliki beberapa buku, berupa kumpulan cerpen, kumpulan puisi, dan juga kumpulan naskah drama. Dan yang teristimewa semua buku yang saya punyai adalah hadiah dari penulisnya.

Buku saya yang berjudul “Manunggaling Kawula Gusti: Pembacaan Atas Teks Suluk Sida Nglamong” diterbitkan oleh penerbit yang digawanginya. Buku ini menjadi pengalaman berbeda bagi almarhum, karena di samping topik yang berbeda dari buku-buku yang pernah dikerjakan, di dalam buku ini almarhum harus mencari dan menyediakan tulisan huruf Jawa. Proses awal hingga mewujud jadi buku yang bagus adalah kerja profesionalnya. Secara pribadi saya sangat berhutang budi kepada almarhum. Ini hanya salah satu saja.

Maka, dalam komentar saya di beberapa postingan teman, saya menyampaikan bahwa almarhum orang baik. Dan sejak saya menerima kabar bahwa Lik Gir (begitu panggilan akrabnya) meninggal, sejak saat itu saya mengatakan bahwa segala urusan duniawi dengan beliau selesai. Saya ikhlas, dan berharap teman lain melakukan hal yang sama. Hal ini biasanya disampaikan oleh wakil keluarga dalam (sambutan) upacara pemberangkatan jenazah menuju peristirahatan terakhir (dimakamkan), yakni permintaan maaf atas segala salah dan khilaf almarhum, dan jika masih ada urusan duniawi lainnya dimohon dikhlaskan atau menghubungi keluarga. Diikhlaskan tentu lebih baik.

Bukti bahwa almarhum orang baik yang lain adalah peristiwa ini.

Beberapa bulan yang lalu, saya terlibat suatu kegiatan di Batu bersama Rachmat Giryadi dan beberapa seniman Jawa Timur. Saat jeda kegiatan, kami (biasanya, berempat atau berlima orang, meski tidak semua ikut) mencari warung kopi yang dekat dengan tempat (hotel) kegiatan. Menyantap makanan dan minuman di warung nasi (atau warkop) di pinggir jalan terkadang terasa lebih sensasional dibanding menu hotel (yang disediakan panitia).

Selesai menikmati makanan dan minuman ala warung pinggir jalan, Rachmat Giryadi segera beranjak dari duduknya. Ia mendekati penjual dengan menyodorkan lembaran uang untuk membayar. “Ini saja Mas Gir,” kata saya sambil berdiri di dekatnya dan membuka dompet. “Tidak usah, Pak Jack. Ini saja. Ada kok,” kata Rachmat Giryadi cepat dan mantab. Saya pun kembali memasukkan dompet ke saku. Padahal saat itu Mas Gir sudah dalam kondisi sakit, artinya badannya sudah kurus dan tentu lebih memerlukan biaya untuk pengobatannya.

Tetapi, sekali lagi ia memang orang baik. Ia sudah kurus. Beberapa di antara kami merasakan bahwa ia sakit. Setiap kami menanyakan kondisi kesehatannya, ia selalu menjawab bahwa kondisinya baik-baik saja. Ia sepertinya tak ingin teman-temannya khawatir. Kami pun hanya bisa diam. Beberapa saran tetap disampaikan oleh satu dua teman. Dan akhirnya, yang paling tahu adalah ia dan Allah. Dan Allah pulalah yang tadi pagi memanggilnya untuk pulang selamanya, dengan meninggalkan segala urusan duniawi (yang dicukupkan). Selamat jalan, Lik Gir. Damai dan tersenyumlah. Insyaallah jalanmu lapang! (*)

*Dosen Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya

Berita Lainnya