Tutwuri.id
News and Edutainment

Wahana Wisata Edukasi: Puslit Koka Indonesia

Tutwuri.id – Berlibur membuat seseorang melakukan aktivitas yang tidak dilakukan setiap hari, menyenangkan, melarikan diri dari rutinitas sejenak. Ketika berlibur mengharuskan seseorang bergerak lebih banyak membuat tubuh lebih bugar karena menghirup udara segar dan melakukan kegiatan fisik lebih ekstra karena perlu berjalan kaki sekedar melihat-lihat tempat wisata, apakah di alam bebas, museum, situs sejarah, atau tempat yang bernilai edukasi.

Liburan kali ini penulis bergabung dengan komunitas Demen Dolan Bareng yang berlibur ke Jember, akhir pekan yang lalu. Salah satu tujuannya ke Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslit Koka). Komunitas ini merupakan sekumpulan orang dari berbagai profesi yang secara rutin tiga atau empat bulanan sekali mengadakan liburan. Ada dokter, arsitek, guru, bidan, perawat, dan admin kantoran. Salah satu alasan mengapa tidak satu profesi adalah ingin benar-benar keluar dari hal rutinitas. Berbagai profesi yang tergabung tentu memberikan warna, karakter, dan nuansa obrolan yang berbeda.

Jember, tentu tidak asing bagi kita dengan sederet pantai yang indah, Teluk Love, Watu Ulo, Payangan, Papuma, Puger, misalnya. Jika sedang bepergian ke Jember, seyogyanya bisa mampir di Puslit Koka. Tempat ini merupakan salah satu daya tarik wisata agro yang terletak di Desa Nogosari Kecamatan Rambipuji, sekitar 12 km ke arah selatan Kota Jember. Berdiri sejak tahun 1911 dan merupakan satu-satunya lembaga penelitian kopi dan kakao di Indonesia.

Milestone Kopi dan Kakao di Indonesia. (Foto: Ali)

Dari gerbang masuk, pandang mata sudah dimanjakan oleh kehijauan pohon kopi, kakao dan pohon lainnya. Puslit Koka memiliki lahan seluas 160 hektar, dikelilingi oleh areal perkebunan kopi dan kakao (coklat) yang asri. Di sini pengunjung dapat menyaksikan sekaligus mempelajari pembibitan dan pembenihan, proses pengolahan, sekaligus menikmati secara langsung hasil produksi kopi dan kakao berupa minuman panas atau dingin, coklat, permen, hingga ice cream.

Museum Kopi dan Kakao

Selain kopi dan kakao yang diawetkan dalam toples-toples kecil, di dalam Museum Kopi dan Kakao terdapat pula papan besar berisi milestone atau tonggak sejarahnya Puslit Kopi dan Kakao Indonesia. Puslit Koka telah berdiri sejak 1 Januari 1911 oleh Besoekisch Proefstation. Jauh sebelum Indonesia merdeka, kopi sudah masuk ke Nusantara sejak tahun 1696 sedang kakao lebih tua lagi, sejak 1560. Lebih lengkapnya mengenai sejarah puslit bisa dibaca di tabel milestone-nya. Dalam museum ini juga terdapat buku-buku terbitan Puslit Kopi dan Kakao Indonesia.

Coffee and Cocoa Science Techno Park (CCSTP) yang diresmikan Menristek pada 20 Mei 2016  itu cocok sebagai tempat edukasi bagi para siswa atau siapa saja yang ingin mengetahui sejarah kopi dan kakao. Manajemen mempersilakan semua masyarakat Indonesia untuk belajar komoditas kopi dan kakao di sini, mulai dari hulu hingga hilir. Untuk memeroleh ilmu dan wawasan baru bahwa belajar tidak harus di bangku sekolah. Atau buat sekadar jalan-jalan dengan teman-teman, liburan keluarga juga pilihan yang menyenangkan.

Jariyanto, salah satu pekerja, menjelaskan bahwa buah kakao ukurannya besar dan lancip ujungnya. Berbeda dengan kopi yang buah muda ke matang berwarna hijau-kuning-merah, buah kakao muda berwarna hijau kemudian merah kecokelatan, matangnya menjadi oranye. Daging yang membalut bijinya cukup tebal. Jika dibelah tampak biji-biji yang berbalut daging berwarna putih. Ketika dimakan daging putih rasanya manis asam kesat, mirip manggis, sirsak, atau srikaya. Biji di dalamnya yang diolah menjadi cokelat.

Di Puslit Koka pengunjung dapat menyaksikan sekaligus mempelajari pembibitan dan pembenihan, proses pengolahan, sekaligus menikmati secara langsung hasil produksi. (Foto: Ali)

Dia melanjutkan, rata-rata ketinggian tanaman dibatasi sampai dua meter saja untuk memudahkan pemetikan dan mengenali jika ada serangan hama. Panen kopi hanya dilakukan satu kali setahun berbeda dengan kakao bisa panen kapan saja karena termasuk tanaman tidak mengenal musim. Di area puslit juga ada kawasan konservasi yang di dalamnya ada rusa tutul dan rusa timur. Kalau ingin permainan, tersedia playground seperti flying fox, ada tempat karaoke di tengah-tengah kebun.

“Buah kopi dipanen hanya satu kali dalam satu musim, tetapi kakao tidak mengenal musim.Sepanjang tahun kakao dapat dipanen,” jelasnya.

Sementara itu, Jordan Bakhriansyah, pencetus komunitas Demen Dolan Bareng, menuturkan bahwa Puslit Koka ini cocok untuk Field Trip. Field Trip merupakan kegiatan keluar dari lingkungan sekolah selama satu hari atau lebih. Tujuan utama kegiatan ini sebenarnya untuk menghindarkan murid dari rasa bosan belajar di kelas dan mengajak mereka untuk refreshing sejenak di alam bebas.

Field trip, lanjutnya, tidak hanya sekedar mengajak bersenang-senang, tetapi juga ingin memberikan pelajaran dan pengalaman yang menyenangkan. Mengapa sekolah perlu mengadakan field trip? Karena memori manusia, terutama mereka yang masih usia sekolah, berdasarkan apa yang mereka saksikan dan lihat secara langsung, bukan berdasarkan apa yang mereka dengar saja.

Rata-rata ketinggian tanaman dibatasi sampai dua meter saja untuk memudahkan pemetikan dan mengenali jika ada serangan hama. (Foto: Ali)

“Diharapkan dengan adanya field trip, siswa mampu mengingat dan merekam semua kejadian selama mengikuti kegiatan, kemudian dikaitkan dengan materi suatu mata pelajaran sekolah,” pungkas pria sebagai dokter spesialis jantung.

Yang menarik juga, di kompleks Puslit Kako dilengkapi Outlet Kopi dan Kakao. Tempat ini juga semacam kafe yang menyediakan minuman dan makanan ringan olahan berbahan dasar kopi maupun cokelat. Anda dapat menikmati di tempat atau memborong aneka kemasan kopi dan kakao buat buah tangan bagi orang-orang tercinta atau orang terdekat.

Sebagai negara penghasil kopi keempat dan penghasil kakao ketiga terbesar di dunia, kehadiran wisata edukasi kopi dan kakao di Puslit Kako ini sangat tepat. Kiranya amat disayangkan, kita sebagai warga negara tidak mengetahui kekayaan bangsa sendiri. (*)

*Guru SMPN 23 Surabaya, Traveler