Tutwuri.id
News and Edutainment

Kelas Braille dan Steam di St. Vincent’s School

Tutwuri.id – Sebagaimana biasanya ketika hari Jumat, sebelum para anggota Delegasi Pendidikan Kota Surabaya berangkat ke Masjid Ar Rahmah untuk menjalankan ibadah salat Jumat, kami akan belajar dulu di beberapa kelas. Hari ini para siswa ABK Visual Impairment, Delegasi Pendidikan Kota Surabaya belajar di dua kelas. Kelas pertama adalah kelas Braille sedangkan kelas kedua adalah kelas STEAM.

Di kelas Braille, Mrs. Houey dan Mrs. D. Waits memperkenalkan berbagai peralatan bantu khusus untuk penyandang Visual Impairment. Di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Tablet/Notebook yang terhubung dengan internet dan keyboardnya berhuruf braille. Semua instruksi yg diberikan dengan menekan tombol-tombol yang ada atau dengan keyboard Braille akan menghasilkan suara sesuai instruksi sehingga penggunanya yang buta bisa memahami apa yang sedang bekerja atau tampil di tablet/notebook.

2. Alat Scan Pembesar yang cara kerjanya seperti cara kerja mikroskop. Hanya saja pemindainya bukan lensa cembung dan kaca tapi scanner pembaca naskah dan dokumen lainnya. Semua tulisan dan gambar akan bisa di-zoom dan tampak lebih besar di monitor dari pada naskah aslinya.

Berbagai peralatan bantu disediakan secara khusus untuk penyandang Visual Impairment. (Foto: Facebook)

3. Radio dan Audio Player yang terhubung juga dengan internet. Hanya saja pada alat ini tidak terdapat monitor atau layar screen. Yang bisa tampil/muncul hanya suara seperti radio. Jika pengguna mengakses situs-situs dalam internet, maka alat ini akan membacakan teks atau konten situs tersebut. Alat ini juga dilengkapi dengan remote kontrol untuk memindah channel radio atau situs internet.

4. CD player khusus untuk Visual Impairment. Alat ini bisa memutar CD atau file-file MP3 dan sebagainya dengan tombol-tombol besar yang mudah dioperasikan oleh para pengguna dari kalangan Visual Impairment.

5. Mesin Braille. Kalau mesin ketik jenis ini di Indonesia sudah banyak digunakan di semua sekolah luar biasa tuna netra. Para ABK Surabaya dilatih oleh Mrs. Houey untuk mengenal kode-kode dalam mesin ketik braille ini. Setelah itu, para ABK dilatih mengetik menggunakan mesin tersebut.

Semua alat yang dikenalkan di kelas ini memang buatan Inggris sendiri. Bukan produk impor. Semua asli teknologi Inggris. Karena itu tak heran jika mereka memperkenalkannya kepada para Delegasi Pendidikan Kota Surabaya dengan bangga.

Di kelas kedua, kami belajar tentang STEAM (Science, Technology, Enginering, Art and Mathematic) bersama Ms. Allison. Di negara-negara maju, pendidikan STEAM memang menjadi sesuatu yang wajib. Saat kami belajar sebagai Delegasi Pendidikan di Korea Selatan pun, kami juga dikenalkan dengan STEAM ala Korea. Kalau di Indonesia, STEAM ini lebih banyak diterapkan di tingkat SMA dan SMK. Nah di Inggris ini rupaya pendidikan STEAM sudah mulai diterapkan sejak jenjang SD.

Para siswa ABK membuat parasut mainannya dari bahan-bahan yang ada, yaitu kertas folio, kertas tissue, tali plastik, gunting dan isolatif. Foto: Facebook)

Pada sesi ini Ms. Allison memperagakan cara pembuatan parasut mainan/terjun payung. Biasanya ketika mengajar murid-murid beliau sendiri, Ms Allison tidak pernah memberikan contoh. Beliau meminta para siswa meciptakan sendiri kreativitasnya. Akan tetapi saat mengajar para ABK Surabaya ini beliau memberikan contohnya dan para siswa mengikuti apa yang beliau contohkan.

Setelah beberapa saat lamanya, para siswa ABK pun berhasil membuat parasut mainannya dari bahan-bahan yang ada, yaitu kertas folio, kertas tissue, tali plastik, gunting dan isolatif. Para siswa pun gembira sekali menerbangkan mainan parasut buatan mereka sendiri.

Bahkan agar lebih mengasyikkan, Ms Allison mengajak para siswa ABK untuk menerbangkan parasut mereka dari atas balkon Chapelle sekolah. Mereka, para siswa ABK Surabaya dan siswa ABK St. Vincent’s School gembira sekali ketika melihat parasut mereka bisa melayang-layang tinggi. (*)

* Delegasi Pendidikan Kota Surabaya di Liverpool United Kingdom

Guru & Staff Kurikulum SMPN 40 Surabaya

Kadiv Lembaga Pelatihan dan Kurikulum JSIT Indonesia Wilayah Jatim

Berita Lainnya