Tutwuri.id
News and Edutainment

Kunjungan Atase Pendidikan KBRI London

Tutwuri.id – Hari ini, Rabu (26/06/2019), kegiatan Delegasi Pendidikan Kota Surabaya di Liverpool adalah mengikuti kegiatan Pembelajaran Enterpreneur di beberapa Kelas Prakarya, di antaranya adalah kelas Coral Stones dan Kelas Heart Weavers. Semua hasil prakarya di kelas enterpreneur ini akan dipamerkan besok, Kamis 27 Juni 2019. Hasil penjualannya untuk disumbangkan kepada lembaga sosial /charity.

Kelas Batu Koral

Di Kelas Coral, para siswa belajar membuat bingkai pigora dengan hiasan dari batu koral. Ada 2 jenis pigora yang dibuat pada hari ini, yaitu pigora yang sudah jadi berbahan fiber/polystrene dan yang kedua pigora sederhana buatan sendiri yang berbahan triplek melamine atau karton.

Pigora Fiber yang sudah jadi itu tinggal diberi tempelan batu koral secara rapi dan menarik dan direkatkan dengan lem tembak. Hasilnya sungguh sangat menawan. Apalagi jika sudah dipasang foto yang menarik pula. Pasti lebih menarik lagi bagi para calon pembeli.

Bingkai pigora dengan hiasan dari batu koral. (Foto: Istimewa)

Untuk pigora berbahan tripleks melamin atau karton, mereka membuat sendiri dari berbagai bahan yang masih terpisah itu menjadi sebuah pigura yang manis. Setelah jadi pigura, mereka menambahkan tatanan batu koral yang rapi dan menarik sebagai bingkainya. Hasilnya pun tak kalah menarik dibanding pigora fiber tadi.

Kelas Heart Weavers

Kelas ini sebenarnya sudah pernah diikuti oleh siswa ABK Surabaya. Hanya saja saat itu kami masih sekedar melihat saja proses pembuatan produk “anyaman jantung” ini. Hari ini anak-anak ABK kita langsung ikut melakukan proses produksi Heart Weavers ini dari awal sampai jadi produk yang sangat cantik dan menarik.

Mulanya anak-anak mengambil bahan ranting kayu semacam rotan kecil yang telah direndam 12 jam agar elastis dan tidak mudah patah. Dua batang ranting dianyam kemudian dibentuk setengah jantung dan kedua ujungnya diikat dengan karet gelang. Kemudian dibuat lagi yang semacam itu, satu lagi. Setelah 2 anyaman setengah jantung itu jadi, maka keduanya disatukan dan diikat dengan benang goni.

Delegasi Pendidikan Kota Surabaya mengikuti langsung proses produksi Heart Weavers dari awal sampai jadi produk yang sangat cantik dan menarik. (Foto: Facebook)

Setelah jadi bentuk jantung penuh, maka langkah selanjutnya adalah memotong kawat ram sesuai dengan pola dan ukuran jantung yang telah disiapkan dari bahan karton. Setelah kawat ram siap, maka kawat ram tersebut dipasang di anyaman jantung tadi. Menyatukan kawat ram dan fram jantung dengan menggunakan tali goni. Di ujung atas anyaman jantung dipasang pita yang cantik dan menarik sebagai gantungan. Setelah jadi, tinggal memasang beberapa potong kertas kecil berisi pesan pngingat, daftar belanja, daftar agenda kegiatan atau quote motivasi yang dijepit dengan penjepit kecil berbahan kayu pada ram kawat.

Kunjungan KBRI

Hari ini Atase Pendidikan KBRI London beserta perwakilan Darma Wanita KBRI London mengunjungi dan melihat berbagai aktivitas Delegasi Pendidikan Kota Surabaya di St Vincent’s School. Rombongan tersebut terdiri dari Prof. Dr. Aminudin Aziz dan Bapak Boni, staff Bidang Ekonomi KBRI London beserta dua orang perwakilan Darma Wanita yaitu Ibu Teti, isitri Wakil Duta Besar RI untuk Inggris dan Bu Irin, istri Prof. Dr. Aminudin Aziz.

Rombongan KBRI bertemu dengan seluruh anggota Tim Delegasi Pendidikan Kota Surabaya di lobi asrama. Setelah berbincang hangat tentang semua aktivitas yang telah dilaksanakan oleh Tim Delegasi di St. Vincent’s School, Prof Aminudin Aziz menyapa satu persatu para siswa ABK yang hadir di lobby tersebut. Beliau memberikan apresiasi atas semangat para siswa ABK dan semua guru pendamping dalam melaksanakan program ini.

Beliau juga menyampaikan bahwa Kota Surabaya memang memiliki program Sister City dengan Kota Liverpool. Selama ini yang telah berjalan adalah kerja sama di bidang ekonomi. Program Delegasi Pendidikan ini merupakan pioner dan pilot project untuk melaksanakan program sister city di bidang pendidikan.

Prof. Aminudin Aziz sebelum menjadi atase pendidikan di KBRI London adalah wakil rektor di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Karena itu beliau sangat memahami masalah di bidang pendidikan. Setelah beliau berkeliling melihat berbagai fasilitas yang ada di St Vincent’s School, beliau mengatakan bahwa sarana yang dimiliki sekolah ini jauh di atas sarana prasarana yang dimiliki oleh sekolah-sekolah yang ada di Indonesia. Akan tetapi semua keterbatasan yang kita miliki janganlah menjadi penghambat untuk terus memberikan layanan yang terbaik dalam pendidikan generasi penerus bangsa kita.

Rombongan KBRI saat bertemu dengan seluruh anggota Tim Delegasi Pendidikan Kota Surabaya. (Foto: Facebook)

Sebelum bertemu dengan Tim Delegasi Pendidikan, rombongan KBRI telah banyak mendapatkan penjelasan tentang Sightbox dari founder nya langsung, yaitu Dr. John A Petterson yang menjemput rombongan dari stasiun Kereta Api. Karena itu Prof Aminudin mengatakan kepada Delegasi Pendidikan bahwa sebelum ini Tim Sightbox mengirimkan guru ke negara yang minta belajar tentang Sightbox, tapi khusus untuk Indonesia Dr. John A Petterson langsung mengundang Tim Delegasi Pendidikan Kota Surabaya untuk belajar langsung di St Vincent’s School.

Hal ini menjadi sangat istimewa karena Tim Delegasi bisa langsung melihat implementasi Sightbox langsung di sumbernya. Bisa langsung melihat dan berinteraksi dengan semua siswa ABK Visual Impairment dan guru pembimbingnya serta melihat langsung proses pembelajarannya. Selain itu Tim Delegasi juga bisa langsung melihat berbagai sarana prasarana yang ada sebagai pendukung implementasi Sightbox tersebut. Oleh karena itu Prof Aminudin berharap agar semua anggota Tim tetap menjaga semangat belajar hingga program ini tuntas.

Beliau sangat berharap kepada Tim Delegasi Pendidikan Kota Surabaya untuk menjadi angin segar bagi dunia pendidikan inklusi di Indonesia. Tim Delegasi Pendidikan Kota Surabaya merupakan tim yang pertama kali mempelajari Sightbox. Bukan hanya untuk kalangan dunia pendidikan di Indonesia tapi juga di Asia. Oleh karena itu beliau berharap benar agar ilmu yang diperoleh di sini bisa ditularkan kepada para pendidik dan siswa ABK di Indonesia dan Kota Surabaya pada khususnya.

Setelah pertemuan di lobi usai, kegiatan Rombongan Atase Pendidikan KBRI adalah berkeliling ke kelas-kelas untuk melihat langsung semua kegiatan pembelajaran yang diikuti oleh Tim Delegasi Pendidikan Kota Surabaya di St. Vincent’s School ini. Ada beberapa kelas yang dikunjung rombongan. Di antaranya adalah Kelas ICT, Kelas Komik, Kelas olah raga, kelas keramik dan lukis kaca.

Kelas IT

Di kelas ICT ini para siswa belajar membuat aplikasi game dengan menggunakan dua bahasa, yaitu bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Para siswa diberi kebebasan untuk berkreasi membuat alur cerita dan permainian dalam aplikasi game tersebut.

Kelas Komik

Di kelas komik ini para siswa diajari membuat komik sendiri dengan tema sentral tentang cerita “Suro ing Boyo”, cerita rakyat tentang pertarungan antara ikan hiu dan buaya yang menjadi asal nama Kota Surabaya.

Kelas Keramik

Di kelas keramik para siswa belajar membuat berbagai karya tembikar dari tanah liat khusus keramik. Bentuk yang buat beraneka macam seperti vas bunga, asbak, miniatur patung binatang, dan sebagianya. Motif yang dibuat untuk masing-masing karya oun sangat beragam dan indah. Semua peralatan untuk membuat berbagai motif tersebut juga diajarkan cara penggunaannya.

Kelas Lukis Kaca

Di kelas ini para siswa belajar melukis dan menghias kaca sesuai pola yang telah disiapkan oleh guru pengajar. Tema lukis kaca kali ini adalah tentang “Suro Ing Boyo” sama dengan tema di kelas Komik. Hal ini untuk mengapresiasi dan mengangkat cerita rakyat Kota Surabaya di tingkat Internasional.

Tukar Cenderamata

Kegiatan Tim KBRI diakhiri dengan pemyerahan cenderamata di ruang Chapelle sekolah. Pada kesempatan ini Prof Aminudin Aziz selaku ketua rombongan memberikan sambutan singkat untuk mengungkapak rasa terima kasih kepada pihak St Vincent’s School atas kesediaannya membimbing Tim Delegasi Pendidikan dari Indonesia. Beliau kemudian menyerahkan cenderamata kepada St. Vincent’s School yang diterima langsung oleh Dr. John A. Petterson selaku principal. Pihak St Vincent’s School juga memberikan cenderamata sebagai ungkapan terima kasih kepada KBRI London yang telah berkenan berkunjung ke sekolah ini.

Prosesi penyerahan cenderamata dari KBRI ke St. Vincent’s School. (Foto: Facebook)

Pada kesempatan tersebut dari pihak Tim Delegasi Pendidikan Kota Surabaya juga menyerahkan beberapa cenderamata dan oleh-oleh khas Surabaya titipan dari wali kota/Pemkot Surabaya kepada pihak KBRI yang diterima langsung oleh Atase Pendidikan KBRI London, Bapak Prof. Dr. Aminudin Aziz. Sedangkan dari KBRI, perwakilan ibu-ibu Darma Wanita menyerahkan oleh-oleh berupa logistik beras 2 karung dan masakan Ayam Kecap siap saji. Alhamdulillah akhirnya kami semua Tim delegasi Pendidikan Kota Surabaya bisa menikmati makanan ala Indonesia setelah hampir dua pekan di Liverpool ini hanya mengkonsumsi makanan ala Eropa yang belum familiar di lidah kami semua.

Semoga harapan dari Atase pendidikan KBRI bisa terwujud dengan baik setelah kami semua Tim delegasi Pendidikan Kota Surabaya menuntaskan semua program di Liverpool ini dan kembali ke tanah air. (*)

*Tim Delegasi Pendidikan Kota Surabaya di Liverpool United Kingdom, Staff Kurikulum SMP Negeri 40 Surabaya

Berita Lainnya