Tutwuri.id
News and Edutainment

Pondok Ramadan Sarana Peningkatan Kualitas Keimanan

Tutwuri.id – Berkaitan dengan momen bulan suci Ramadan, SMP Negeri 23 Surabaya mengadakan Pondok Ramadan bagi siswa Kelas VII dan Kelas VIII. Kegiatan yang diselenggarakan berisi dengan berbagai bentuk kegiatan keagamaan seperti, pengkajian, tadarus Al Quran dengan pendalamannya, buka puasa bersama, dan lain kegiatan positif lainnya mulai Selasa (21/05/2019) sampai Jumat (24/05/2019).

Kepala SMP Negeri 23 Surabaya Laili Fadila mengatakan, bulan Ramadan merupakan bulan keutamaan, bulan penuh berkah yang di dalamnya terdapat peluang untuk mencapai keberhasilan serta kemuliaan. Sangat tepat apabila bagi para siswa untuk mengisi kegiatan Ramadan tersebut dengan kegiatan-kegiatan positif yang mengarah pada peningkatan pengetahuan agama dan kualitas beribadah.

“Dengan kegiatan Pondok Ramadan diharapkan para siswa mampu memahami makna hakikat puasa bagi peningkatan keimanan seseorang,” katanya saat membuka acara.

Sementara itu, Kun Hayanah, Guru PAI SMP Negeri 23, menambahkan bahwa satu agenda rutin bagi siswa pada setiap bulan Puasa yaitu kegiatan Pondok Ramadan. Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman secara menyeluruh tentang pentingnya membiasakan diri melakukan kegiatan-kegiatan positif, meningkatkan amal ibadah, memperkokoh kepribadian. Dan yang penting, memberikan pemahaman kepada para peserta didik tentang ajaran agama dan bagaimana mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih rinci, Kun Hayanah menjelaskan, Pondok Ramadan sebagai sarana memperdalam, memantapkan, dan meningkatkan penghayatan ajaran Agama Islam, khususnya tentang keimanan, ibadah, akhlak, dan Al quran, Selain itu, untuk menerapkan dan mengamalkan ajaran yang diperolehnya dalam kehidupan sehari-hari untuk membentuk mental spiritual yang tangguh, kokoh, dan mampu menghadapi tantangan-tantangan negatif, baik yang datang dari dirinya pribadi maupun dari luar dirinya.

“Diharapkan akhlak siswa yang semula baik menjadi lebih baik lagi, memiliki etika, kesadaran sosial dan paham makna puasa itu sendiri,” pungkas mantan guru PAI SMP Negeri 21 Surabaya. (ali/dwi)