Tutwuri.id
News and Edutainment

Tiga Guru Besar Unair Bicarakan Masalah Ketahanan Pangan di Indonesia

Tutwuri.id – Hadirnya era revolusi 4.0 yang penuh dengan gejolak teknologi yang tak terhindarkan, secara langsung menuntut negara untuk beradaptasi. Hal utama yang perlu diperhatikan dalam mengintervensi berlangsungnya revolusi 4.0 ialah ketersediaan pangan dan kebutuhan masyarakat.

Menyikapi hal tersebut, Universitas Airlngga (Unair) menggelar kegiatan diskusi pakar yang bertajuk Ketahanan Pangan untuk Menopang Stabilitas Keamanan, Kesehatan, dan Ekonomi Negeri di Aula Amerta Gedung Rektorat kampus C Unair, Selasa (23/04/2019).

Diskusi tersebut menghadirkan tiga pembicara yakni Prof. Suwarno dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH); Prof. R. Bambang W dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM); dan Dyah Wulan Sari, SE,M.Ec.Dev.,Ph.D., Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Kemudian dimoderatori oleh dr. Niken sasadhara S., selaku dokter umum Rumah Sakit Unair.

Mengenai hal itu, Ketua PIH Unair Suko Widodo dalam sambutanya menyampaikan kepada semua peserta yang hadir bahwa akhir-akhir ini masyarakat Indonesia disibukkan dengan aktivitas Pemilu, juga kampanye. Banyak energi yang tersita atas narasi-narasi politik yang saling dileparkan oleh setiap kubu. Sekarang sudah waktunya kembali fokus pada kebutuhan pangan bagi masyarakat Indonesia.

“Maraknya makanan yang mengandung bahan kimia yang tidak dapat dihindari berpotensi memberikan efek yang negatif ke depannya. Diskusi perihal pangan dalam berbagai prespektif sangat penting untuk dilakukan. Mengingat, banyak perubahan pola ketahanan pangan akibat perkembangan teknologi dalam era Revolusi 4.0,” kata Suko.

Materi pertama disampaikan Prof. Dr. Suwarno, perihal pangan dari bidang ternak. Menurutnya, kondisi peternakan yang ada di Indonesia masih bersifat perorangan, masih bersifat tradisional, karena faktor makanan yang diberikan berupa rumput.

Potensi itu belum maksimal karena perlunya pekerjaan yang dilakukan secara profesional, sementara kebutuhan daging terus meningkat yang disebabkan populasi ternak lokal semakin merosot. Apalagi, kasus penyakit reproduksi masih tinggi karena sebagian besar hewan tersebut kekurangan gizi pakan, adanya kasus penyakit menular /zoonosis cukup tinggi karena adanya penanganan yang kurang serius.

“Konsumsi pangan masyarakat indonesia sebagian besar diambil dari ranah hewani, seperti unggas, kambing, dan sapi. Impor pangan hewani cukup tinggi. Namun, Jatim memiliki potensi ternak yang paling tinggi di Indonesia,” ungkapnya.

Menurutnya, pengimporan hewan diperlukan ketelitian yang tinggi bagi pemerintah maupun swasta. Namun, hal tersebut sudah mampu diatasi oleh para ahli di Indonesia dalam mengklasifikasi hewan yang akan diimpor. Sebab, ada beberapa negara yang perlu kita waspadai karena ternak mereka terindikasi terkena virus.

Dia memberikan solusi terhadap pengembangan peternakan Indonesia. Di antaranya, menggeser pola peternakan perorangan ke arah kelompok/industri, pengembangan pola integrasi ternak tanaman (sapi-sawit), pengembangan lahan pengembalaan, fasilitas asuransi usaha ternak sapi (AUTS).

Sementara Prof. Bambang memaparkan mengenai kesehatan dan keamanan pangan. Menurutnya, keamanan pangan di Indonesia harus benar-benar diperhatikan dengan baik. Sebab, era saat ini sangat marak makanan yang membahayakan bagi kesehatan.

Permasalahan lain yakni pada mutu beras dan distribusi pangan yang tidak seimbang. Biasanya pada wilayah terpencil memiliki ketahanan atau kualitas pangan yang rentan. Terdapat 26 kabupaten di Indonesia yang memiliki ketahanan atau kualitas pangan rendah. “Pewarna kimia yang beredar di pasaran juga begitu berbahaya bagi kesehatan, hal ini akan memberikan dampak atau efek jangka panjang yang cukup berbahaya,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, para mahasiswa atau pekerja yang bertempat tinggal di kos berpotensi tinggi terkena efek dari bahan kimia yang dikonsumsi. “Untuk itu, dalam mengonsumsi makanan kita harus tetap menekankan pada segi kualitas dan tetap hati-hati. Supaya terhindar dari segala hal yang tidak diinginkan dan membahayakan kesehatan,” terangnya.

Sementara, Dyah Wulan Sari menjelaskan berkenaan dengan ekonomi dan keamanan pangan. Dalam paparannya, masih banyak masyarakat mempermainkan harga kebutuhan pangan. Sehingga kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan keamanan pangan dan gizi dirasa masih belum cukup. Misalnya dengan harga lombok yang melambung tinggi. (rls/dwi)

Berita Lainnya